Sabtu, 20 Agustus 2016

Ilmu-ilmu Teoretis dan Ilmu Praktis

Perbedaan terbesar antara ilmu pengetahuan dulu dengan sekarang adalah keterlibatan ilmu pengetahuan sekarang dengan praksis. Meskipun masih aktual, pembedaan itu kini tidak begitu tajam lagi. Hal itu karena banyak ilmu teoretis yang memerlukan eksperimen untuk memperoleh pengetahuan. Tapi hubungan yang erat yang tercermin pada ilmu-ilmu alam itu tidak begitu saja digeneralisir pada semua bidang ilmu. Di samping itu, perlu diingat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan semakin menambah kesenjangan antara problem-problem praktis yang segera harus dicarikan solusinya dengan kesanggupan semua ilmu untuk menyajikan pemecahannya. Di sinilah letak pengetahuan terhadap hubungan ilmu teoretis dengan ilmu praktis menjadi penting.
Mengapa pembedaan antara ilmu-ilmu teoretis dengan ilmu-ilmu praktis dianggap relatif? Hal itu karena pengalaman membuktikan, penelitian ilmu murni yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan, pada waktunya membutuhkan penerapan-penerapan praktis yang berdampak langsung. Pun, penelitian yang ditujukan pada penerapan akan menggunakan pengetahuan ilmiah yang sudah diperoleh dalam mengkonstruksi alat-alat dan metode baru, memecahkan kesulitan-kesulitan yang timbul, dan sebagainya. Begitu pun sebaliknya. Penelitian ilmiah murni berpotensi membuka keran penerapan yang berbeda.
Suatu ilmu dapat terbentuk dari problem-problem yang dipecahkan dengan cara yang lain dari biasanya. Bisa jadi awalnya hanya kebetulan, namun dengan itu terbuka jalan untuk terus bertanya. Tapi, selalu berlaku bahwa perkembangan ilmu pengetahuan ditentukan oleh hakikat problem yang muncul di dalam kerangka teoretis ilmu bersangkutan. Perkembangan itu memengaruhi juga sifat dan urutan penerapan ilmu bersangkutan. Hal itu mengakibatkan pada suatu saat timbul penerapan baru namun tidak memecahkan masalah utama pada waktu itu.
Tidak ada ilmu yang menguasai realitas konkrit dalam keseluruhannya, masing-masing punya cara pandang sendiri. Hal itu dikarenakan tidak semua ilmu berkembang sama jauh dan karena ilmu-ilmu berbeda obyek formalnya. Pertentangan yang terjadi adalah di satu pihak ada sekelompok ilmu yang dalam penelitiannya terpimpin oleh permasalahannya sendiri, di lain pihak terdapat sekelompok ilmu yang sengaja bertolak dari kebutuhan praktis. Contohnya ilmu kedokteran. Awalnya, ia lebih merupakan seni ‘menyembuhkan’. Namun, dengan perkembangan ilmu alam dan ilmu manusia, bertambahlah statusnya sebagai ilmu dan karena tujuannya yang khas jadilah ia sebagai ilmu praktis. Berbeda dengan tipe-tipe baru ilmu pengetahuan praktis seperti polemologi, ilmu yang mempelajari sebab-sebab peperangan. Ilmu ini tidak termasuk ilmu militer. Namun karena sifatnya yang multidisipliner, maka ia akan berusaha memecahkan problem-problem praktis yang jadi obyek garapannya dengan melibatkan studi ilmu lain yang sudah ada.
Ilmu praktis seperti di atas bisa saja hanya menyelesaikan permasalahan konkrit dalam jangka pendek. Namun, bukan berarti kita harus meninggalkan pendekatan multidisipliner seperti itu. Justru kita perlu mengembangkan ilmu-ilmu murni yang bersangkutan agar pemecahan-pemecahan yang baru dapat berlangsung lama. Ada tidaknya hasil-hasil praktis tidak tergantung pada mendesaknya problem-problem praktis, melainkan pada ‘hukum-hukum perkembangan’ intern dari ilmu-ilmu bersangkutan.
Kenyataannya, istilah multidisipliner di atas lebih tepat dibanding inter-disipliner. Hal itu karena ilmu-ilmu lain yang berkaitan, terlibat secara teori dalam pemecahan problem-problem fundamental ilmu yang dimaksud. Sedangkan inter-disipliner menghendaki ilmu lain sebagai rantai pengetahuan yang taut menaut dan bukannya membangun teori baru. Hal ini menunjukkan integrasi yang jelas dalam ilmu-ilmu yang sifatnya multidisipliner. Namun, kesulitan yang terjadi adalah bahwa pada pendekatan praktis terhadap problem-problem umumnya akan berdominasi ilmu-ilmu yang memiliki sarana teoretis yang paling kuat. Ini memberikan warning bagi para ilmuwan untuk selalu menyadari keberatsebelahan suatu pendekatan ilmiah tertentu. Berat sebelah itu wajar karena tiap ilmu memandang realitas dari satu sudut pandang tertentu. Suatu ilmu yang “menyusupi” ilmu-ilmu lain bisa jadi pada waktunya akan menempuh jalannya sendiri dan membangun teorinya untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konkrit, tapi tidak lagi secara langsung terarah ke situ.
Kebertautan teori dan praksis ini berlaku ini bahkan pun pada ilmu sejarah. Pada ilmu sejarah, fenomena itu senantiasa berulang polanya. Dari situ bisa kita lihat bahwa pola pengaruh kebudayaan akan sama meskipun berbeda hasil kebudayaannya. Begitu pula dalam ilmu filsafat. Filsafat sebagai theoria dan etika sebagai praxis secara intrinsic berhubungan erat satu sama lain. Hal itu merupakan hal yang sudah umum dan wajar.
Penting pula disebutkan di sini mengenai ciri-ciri umum yang berlaku bagi ilmu pengetahuan, yaitu:
  1. Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti ada sistem dalam penelitian dan dalam hasil.
  2. Ilmu pengetahuan harus tanpa pamrih. Begitu pun dalam praksis, ilmu pengetahuan itu haruslah diarahkan pada pencarian kebenaran.
  3. Ilmu pengetahuan berlaku universal, yaitu umum dan obyektif—terpimpin oleh obyek dan tidak didistorsi oleh prasangka subyektif
  4. Agar seobyektif mungkin, ilmu pengetahuan juga harus intersubyektivitas, yaitu dapat diverifikasi oleh peneliti lain meskipun verifikasi akan bersifat lain. Karena itu juga, ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
  5. Ilmu pun berlaku progresif, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi. Di sinilah pentingnya sikap kritis seorang ilmuwan. Dengan sikap ini, tidak hanya terbuka wilayah-wilayah baru dalam kajian ilmu pengetahuan, tapi juga membuka peluang revisi pada bidang yang sudah digarap.
  6. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan. Inilah kebertautan umum teori dan praksis. Cara menggunakan ilmu bisa berbeda-beda, tapi tiap ilmu pengetahuan harus menemukan tempatnya untuk diverifikasi secara eksperimental.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar